TRENGGALEK - Kerja ke luar negeri masih jadi “jalan ninja” banyak warga Trenggalek buat memperbaiki ekonomi keluarga. Tapi menariknya, negara-negara di Eropa dan Timur Tengah ternyata belum terlalu jadi incaran para Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Bumi Menak Sopal.
Data Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Trenggalek mencatat, sejak Januari 2025 hingga April 2026 ada sekitar 4.195 warga berangkat bekerja ke luar negeri.
Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi Disperinaker Trenggalek, Sarkun, mengatakan mayoritas PMI asal Trenggalek masih memilih negara-negara Asia sebagai tujuan utama.
“Dengan rincian sebagai berikut, untuk tujuan Eropa dan Timur Tengah ada 45 orang atau 1,10 persen,” ujar Sarkun.
Sementara itu, tujuan Asia dan Afrika mendominasi dengan jumlah mencapai 4.122 orang atau sekitar 90,20 persen dari total PMI yang tercatat. Sedangkan wilayah Amerika dan Pasifik hanya menyumbang 28 orang atau 0,70 persen.
“Jumlah keseluruhan yang terdata kemarin per April ya kami ngecek di sistem itu sekitar 4 ribuan,” imbuhnya.
Taiwan dan Hongkong masih menjadi negara favorit pekerja migran asal Trenggalek. Selain itu, ada juga yang berangkat ke Jepang, Korea Selatan hingga beberapa negara di Afrika.
Menurut Sarkun, jenis pekerjaan PMI dibagi menjadi dua kategori, yakni formal dan nonformal. Untuk sektor formal biasanya bekerja di perusahaan atau pabrik, sedangkan sektor nonformal mayoritas bekerja sebagai asisten rumah tangga.
“Kalau yang non-formal kebanyakan di asisten rumah tangga,” jelasnya.
Disperinaker Trenggalek juga mengingatkan masyarakat agar tidak tergiur jalur ilegal saat ingin bekerja di luar negeri. Pemerintah meminta calon PMI menggunakan prosedur resmi supaya mendapat perlindungan hukum dan pendampingan apabila terjadi masalah di negara tujuan.
Sarkun mencontohkan, PMI yang berangkat secara resmi akan lebih mudah mendapat bantuan ketika mengalami sakit, kecelakaan kerja, hingga proses pemulangan apabila meninggal dunia.
Sebaliknya, PMI overstay atau tinggal melebihi izin di negara tujuan justru berisiko menghadapi persoalan hukum hingga sanksi imigrasi.
“Silakan melalui jalur yang prosedural artinya jalur yang resmi yang melalui Dispernaker untuk pemrosesannya kemudian melalui PT yang resmi,” pesannya.
Hal senada sebelumnya juga disampaikan Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin. Pemkab Trenggalek disebut terus mendorong perlindungan PMI melalui kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk untuk penempatan kerja ke Jepang dan Korea Selatan.
Salah satu program yang disiapkan yakni bantuan pembiayaan awal bagi calon PMI melalui BPR Jwalita, sehingga pekerja tidak harus berutang besar sebelum berangkat.
“PMI itu pahlawan devisa, kita pastikan tidak tertipu, tidak boncos duluan. Sehingga kita kerjasama langsung dilihat dari Korea Mr. Lee. Lalu, Bu Esther, PT yang nanti melakukan pelatihan sekaligus penyaluran,” ungkap Mas Ipin beberapa waktu lalu.
Kabar Trenggalek - Nasional
Editor: Zamz




















