Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini

Press ESC / Click X icon to close

Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini
LoginKirim Artikel
ADVERTISEMENT
ITB

Ironi Lapangan Kerja Trenggalek: Pengangguran Turun, Lulusan SMK Paling Rentan "Nganggur"

Data BPS Trenggalek Agustus 2025 menunjukkan TPT turun ke 3,86 persen, namun lulusan SMK mencatat pengangguran tertinggi 8,93 persen.

Poin Penting

  • TPT Trenggalek Agustus 2025 turun menjadi 3,86 persen.
  • Lulusan SMK mencatat pengangguran tertinggi, 8,93 persen.
  • Sektor manufaktur dan jasa tumbuh, pertanian justru menyusut.

KBRT - Kabar baik dan tanda tanya datang bersamaan dari lapangan kerja Kabupaten Trenggalek. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) memang turun tipis menjadi 3,86 persen pada Agustus 2025. Namun di balik itu, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) justru menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran paling tinggi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Trenggalek mencatat, jumlah angkatan kerja pada Agustus 2025 mencapai 470.751 orang. Angka ini turun 12.146 orang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga ikut terkoreksi 2,41 persen poin menjadi 77,67 persen.

Ketua Tim Statistik Sosial BPS Trenggalek, Samsul Ma’arif, menjelaskan bahwa peningkatan jumlah penduduk usia kerja tidak otomatis diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja.

“Penduduk usia kerja Trenggalek mencapai 606.110 orang pada Agustus 2025. Namun, hanya 470.751 orang yang aktif masuk dalam angkatan kerja, sementara sisanya berada di luar angkatan kerja,” jelas Samsul.

Dari total angkatan kerja tersebut, sebanyak 452.598 orang tercatat bekerja. Meski mayoritas terserap, jumlah ini justru turun 11.481 orang dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, masih ada 18.153 orang yang masuk kategori pengangguran.

Yang mencolok, lulusan SMK mencatat tingkat pengangguran tertinggi, yakni 8,93 persen. Angka ini hampir dua kali lipat dibanding lulusan SMA umum (4,58 persen) dan lebih tinggi dari lulusan pendidikan tinggi (4,25 persen).

ADVERTISEMENT

“Kami melihat adanya ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan SMK dengan kebutuhan riil pasar kerja. Kondisi ini membuat lulusan SMK paling rentan menganggur,” tegas Samsul.

Dari sisi lapangan usaha, terjadi pergeseran signifikan dalam setahun terakhir. Sektor pertanian kehilangan 55.749 tenaga kerja. Sebaliknya, sektor manufaktur menambah 25.555 pekerja dan sektor jasa menyerap 18.713 tenaga kerja baru.

Secara proporsi, pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan porsi 38,22 persen. Sektor jasa berada di posisi kedua dengan 34,05 persen, disusul manufaktur sebesar 27,73 persen. Bahkan, sektor industri manufaktur naik 6,19 persen poin dibanding tahun sebelumnya.

Namun, pertumbuhan industri tersebut belum otomatis menjadi solusi bagi lulusan SMK, yang secara konsep pendidikan dipersiapkan untuk langsung masuk dunia kerja.

Di sisi lain, ada perkembangan positif dari status pekerjaan. Jumlah pekerja formal meningkat menjadi 123.507 orang atau 27,29 persen dari total pekerja. Kenaikan ini dipicu bertambahnya buruh/karyawan tetap serta pekerja di sektor industri.

Meski demikian, struktur pendidikan tenaga kerja masih menjadi tantangan. Lulusan SD ke bawah masih mendominasi pasar kerja dengan porsi 39,46 persen. Sementara lulusan SMK hanya menyumbang 12,70 persen dari total penduduk bekerja

Kabar Trenggalek - Ekonomi

Editor: Zamz