TRENGGALEK - Hujan gerimis yang turun di akhir pertunjukan Trenggalek Menari 5 justru bikin suasana makin syahdu. Di tengah riuh tepuk tangan penonton di Amphiteater Hutan Kota Trenggalek, Sabtu malam (16/05/2026), Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin atau Mas Ipin mengaku terpukau dengan energi para penampil.
Baginya, Trenggalek Menari bukan sekadar pentas tari biasa. Event itu mulai berubah jadi ruang ekspresi yang hidup dan punya identitas kuat di kalangan anak muda maupun pegiat seni.
“Luar biasa, pecah,” ujar Mas Ipin usai menyaksikan pertunjukan.
Mas Ipin bahkan membayangkan Trenggalek Menari ke depan tidak melulu digelar di panggung kota. Ia ingin konsep pertunjukan mulai menyatu dengan bentang alam Trenggalek yang dikenal punya banyak lokasi eksotis.
“Next, ditunggu penampilannya di bawah air terjun, di aliran sungai, pesisir pantai, memainkan pasir-pasir, hari ini kita bermain di hutan,” sambungnya.
Menurutnya, gerimis yang turun saat acara selesai seperti menjadi penutup alami yang penuh makna. Alam seolah ikut merespons karya-karya yang ditampilkan sepanjang malam.
“Dan ditutup dengan rintik-rintik gerimis, menandakan bahwa Bumi Trenggalek bersyukur hari ini semuanya bisa mengeluarkan karyanya, rasanya, dan menjadikan alam Trenggalek menjadi hidup,” katanya.
Mas Ipin juga memberi semangat kepada komunitas seni yang selama ini konsisten menghidupkan ruang budaya di Trenggalek, termasuk Kabul Cultural Space dan tim Trenggalek Menari.
“Jadi teman-teman Kabul Cultural Space dan teman-teman Trenggalek Menari, semangat terus ngrembaka dan terus nyawiji,” ujarnya.
Sementara itu, Koordinator Panitia Trenggalek Menari, Rhesajaya, menjelaskan rangkaian acara sebenarnya sudah dimulai sejak awal Mei lewat program workshop bertajuk “Nyantrik #1”. Kegiatan itu menghadirkan seniman tari Puri Senjani dari Jakarta untuk berbagi pengalaman dan proses kreatif kepada peserta.
“Beliau berdomisili di Jakarta kita undang untuk menjadi pemateri untuk Nyantrik 1 Trenggalek Menari,” ujar Jaya.
Panitia tahun ini juga mencoba membawa seni lebih dekat dengan publik. Salah satunya lewat aktivitas promosi dan pertunjukan kecil saat Car Free Day bersama Sanggar Kinanti.
Tak berhenti di pertunjukan tari, Trenggalek Menari #5 juga menghadirkan sesi yoga pada sore hari sebelum pementasan utama dimulai. Konsep itu dipilih sebagai ruang refleksi tubuh dan kesadaran diri.
Tema besar “Kelakar Akar” menjadi benang merah seluruh pertunjukan tahun ini. Jaya menyebut konsep tersebut lahir dari keresahan terhadap budaya bercanda yang sering kehilangan makna dan batas.
Menurutnya, “kelakar” dimaknai sebagai candaan, sedangkan “akar” adalah pondasi nilai yang seharusnya tetap diingat dalam kehidupan sosial.
“Kita mengingat kembali nilai yang kita pikir sebelum melempar candaan tawa itu harus melihat dulu. Kita sekarang tumbuh berkembang juga harus mengingat akar,” bebernya.
Ia juga menyinggung pentingnya tanggung jawab moral dalam setiap ucapan maupun candaan yang dilontarkan kepada orang lain.
“Mungkin kalau dilihat dari kesadaran atau prespektif kesadaran kita harus menyadari dibalik statmen setiap kelakar atau candaan harus ada tanggungjawab moral terhadap mereka yang mendengarkan,” katanya.
Tahun ini, Trenggalek Menari diikuti 21 peserta dari berbagai daerah, termasuk luar Trenggalek. Jumlah itu menunjukkan minat terhadap ruang seni pertunjukan di Trenggalek mulai tumbuh.
Panitia berharap event ini tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga membuka ruang yang lebih serius bagi perkembangan seni tari lokal.
“Dan mungkin lagi, orang-orang akan lebih sadar bagaimana ruang atau wadah seni di Trenggalek memiliki tempat yang tepat,” ujar Jaya.
Kabar Trenggalek - Sosial
Editor: Zam


















