TRENGGALEK - Di tengah tren hiburan serba cepat dan konten yang gampang viral, pegiat seni di Trenggalek justru mengajak publik buat berhenti sejenak dan merenung. Lewat event “Trenggalek Menari 2026”, para seniman tari mencoba membawa pesan soal pentingnya tetap ingat “akar” di tengah budaya bercanda yang makin bebas.
Event tahunan itu kini memasuki tahun kelima penyelenggaraan. Puncak acaranya digelar Jumat (15/05/2026) malam dengan pertunjukan bertajuk Arsitektur Jiwa.
Koordinator Panitia Trenggalek Menari, Rhesajaya, mengatakan rangkaian kegiatan sebenarnya sudah dimulai sejak 9 Mei 2026 lewat workshop “Nyantrik #1” bersama seniman tari Puri Senjani dari Jakarta.
“Beliau berdomisili di Jakarta kita undang untuk menjadi pemateri untuk Nyantrik 1 Trenggalek Menari,” ujar Rhesajaya kepada awak media, Jumat (15/5/2026).
Tak cuma fokus pada panggung pertunjukan, panitia juga mencoba mendekatkan seni tari ke ruang publik. Salah satunya lewat promosi di area Car Free Day pada 10 Mei 2026 yang dikemas bersama Sanggar Kinanti.
“Tanggal 15 kita ada di puncak acaranya yaitu pertunjukan karya yang bertemakan Arsitektur Jiwa,” lanjutnya.
Menariknya, Trenggalek Menari tahun ini tak hanya bicara soal gerak tubuh di atas panggung. Pada 16 Mei 2026 sore, panitia juga menghadirkan sesi yoga sebagai bagian refleksi tubuh dan kesadaran diri.
“Bagaimana tubuh yang harus merefleksikan diri kita tubuh sebagai media itu sore. Lanjut 16 Mei 2026 malamnya kita pertunjukan karya,” paparnya.
Tema besar yang diangkat tahun ini adalah “Kelakar Akar”. Menurut Jaya, konsep itu lahir dari kegelisahan soal budaya bercanda yang kadang kehilangan batas dan melupakan nilai dasar.
Ia menjelaskan, “kelakar” berarti gurauan atau candaan, sedangkan “akar” dimaknai sebagai pondasi hidup untuk terus tumbuh dan berkembang.
Bagi Jaya, candaan tanpa memahami akar nilai diibaratkan seperti membangun rumah di atas pasir: terlihat berdiri, tapi mudah runtuh saat diterpa badai.
“Kita mengingat kembali nilai yang kita pikir sebelum melempar candaan tawa itu harus melihat dulu. Kita sekarang tumbuh berkembang juga harus mengingat akar,” bebernya.
Menurutnya, setiap candaan tetap punya tanggung jawab moral terhadap orang lain yang mendengarkan. Karena itu, kesadaran dalam berbicara juga menjadi bagian penting dari refleksi yang dibawa lewat karya tari tahun ini.
“Mungkin kalau dilihat dari kesadaran atau prespektif kesadaran kita harus menyadari dibalik statmen setiap kelakar atau candaan harus ada tanggungjawab moral terhadap mereka yang mendengarkan,” katanya.
Dari sisi peserta, Trenggalek Menari 2026 juga mengalami perkembangan. Tahun ini ada 21 peserta yang datang dari Trenggalek maupun luar daerah.
Panitia berharap event tersebut bisa terus berkembang dan menjadi ruang yang lebih serius bagi pegiat seni tari di Trenggalek.
“Dan mungkin lagi, orang-orang akan lebih sadar bagaimana ruang atau wadah seni di Trenggalek memiliki tempat yang tepat,” kata dia.
Kabar Trenggalek - Sosial
Editor: Zamz



















