KBRT - Upaya menjaga sekaligus “mengintip” kekayaan hayati Hutan Kota Trenggalek terus dilakukan. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur memasang kamera jebak di kawasan Hutan Kota (Huko) Trenggalek, Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek.
Langkah ini difokuskan untuk memantau keberadaan satwa liar, terutama Paok Pancawarna, burung endemik Pulau Jawa dan Bali yang masuk daftar satwa dilindungi. Selain untuk konservasi, pemantauan ini juga membuka peluang pengembangan wisata minat khusus berbasis lingkungan.
Kamera jebak dipasang pada salah satu pohon dengan ketinggian sekitar 50 sentimeter dari permukaan tanah. Penempatan tersebut menyesuaikan karakter Paok Pancawarna yang dikenal aktif di lantai hutan, bukan di tajuk pepohonan.
Polisi Kehutanan BBKSDA Jawa Timur, Akhmad David Kurnia, mengatakan Paok Pancawarna menjadi target utama karena memiliki nilai ekologis sekaligus potensi daya tarik wisata.
“Target utama kami adalah Paok Pancawarna karena statusnya dilindungi dan endemik Jawa-Bali. Ke depan, keberadaan burung ini bisa menjadi daya tarik wisata pengamatan burung,” ujar David.
Meski dalam sepekan kamera jebak belum berhasil merekam Paok Pancawarna, hasil pemantauan tetap dianggap menjanjikan. Kamera justru menangkap aktivitas sejumlah satwa liar lain yang juga dilindungi.
“Yang terekam ada sepasang landak Jawa (Hystrix javanica), kemudian monyet ekor panjang, serta musang pandan. Ini menunjukkan bahwa ekosistem di Hutan Kota Trenggalek masih cukup baik,” jelasnya.
David menambahkan, keberadaan berbagai jenis satwa tersebut menjadi indikator penting keseimbangan ekosistem. Musang pandan, misalnya, memiliki peran sebagai omnivora yang membantu menjaga stabilitas rantai makanan di kawasan hutan.
Ia juga menegaskan, berdasarkan hasil inventarisasi BBKSDA, Paok Pancawarna memang diketahui hidup di kawasan Hutan Kota Trenggalek. Bahkan, suara khas burung tersebut masih sering terdengar saat petugas melakukan pemantauan langsung.
“Kami yakin burung itu ada. Suaranya sering terdengar, hanya saja belum berhasil terekam kamera. Karena itu pemantauan akan terus dilakukan,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Peningkatan Daya Tarik dan Destinasi Wisata Disparbud Trenggalek, Toni Widianto, menyambut positif hasil pemantauan BBKSDA tersebut. Menurutnya, temuan ini memperkuat posisi Hutan Kota Trenggalek sebagai destinasi wisata edukatif berbasis lingkungan.
“Ini kabar baik bagi kami. Keanekaragaman hayati yang ada bisa menjadi sarana edukasi, khususnya bagi pelajar,” kata Toni.
Ia menambahkan, pihaknya berencana menjalin kolaborasi dengan BBKSDA untuk mengembangkan wisata edukasi sekaligus mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian kawasan.
“Hutan kota ini unik karena sejak awal memang berupa hutan alami, bukan buatan. Tinggal kita rawat bersama agar tetap lestari dan memberi manfaat bagi generasi mendatang,” kata dia.
Kabar Trenggalek - Sosial
Editor: Zamz




.jpg)














