KBRT - Belakangan ini, banyak sekali gebrakan unik dari pemerintah. Salah satu yang cukup banyak mendapatkan perhatian publik adalah Gerakan Ayah Mengambil Rapor. Lantas, apa sebenarnya program satu ini?
Musim pengambilan raport semester ganjil 2025/2026 kali ini, berbeda dengan pengambilan rapor pada tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya, pada tahun ini pemerintah meluncurkan sebuah program dimana pengambilan rapor siswa harus dilakukan oleh ayah dari siswa.
Gerakan ini, menimbulkan banyak sekali pertanyaan bagi para wali murid. Mengapa program ini harus diadakan, bagaimana siswa yang tidak punya ayah, bagaimana yang ayahnya bekerja dan banyak lainnya.
Daftar Isi [Show]
Mengapa Program Ini Harus Diadakan?
Gerakan ini tertuang dalam Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Mendukbangga/Kepala BKKBN) No 14 Tahun 2025 tentang Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah.
Menurut informasi dari beberapa media, adanya gerakan ini adalah respon pemerintah terhadap sebuah isu fatherless di Indonesia yang membutuhkan perhatian lebih. Makna fatherless sendiri, tak hanya berarti tidak hadirnya sosok ayah secara fisik, namun juga tidak hadirnya peran ayah secara emosional dalam keluarga.
Fatherless, mampu menimbulkan dampak negatif yang cukup mengkhawatirkan bagi anak-anak. Dampak tersebut, meliputi seperti masalah akademik, perilaku agresif anak, dan keterlibatan anak dalam perilaku berisiko.
Munculnya gerakan ini, adalah dengan tujuan mengatasi munculnya dampak negatif dari kondisi fatherless.
Bagaimana Jika Ayahnya Bekerja?
Sebagian ayah siswa, tidak bisa hadir karena urusan pekerjaan. Oleh karena itulah, dalam SE Mendukbangga/Kepala BKKBN No 14 Tahun 2025 tersebut, dijelaskan bahwa ayah yang mengikuti Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah akan diberikan dispensasi keterlambatan. Cara tersebut, membuat ayah yang sedang bekerja bisa menghadiri pengambilan rapor anaknya.
Bagaimana Siswa Yang Tidak Memiliki Ayah?
Meskipun memiliki tujuan yang positif sebagai sarana untuk mengembalikan kedekatan ayah dan anak, program ini justru menjadi sebuah ide yang dinilai buruk oleh masyarakat. Seperti yang kita tahu, tidak semua anak memiliki ayah yang dapat hadir untuk mengambil rapor mereka.
Hal ini, membuat ajakan untuk hadir secara fisik pada jam sekolah menjadi tidak realistis bagi banyak keluarga. Menurut beberapa komentar warganet, hal ini justru dapat menimbulkan potensi bullying bagi sebagian siswa.
Kabar Trenggalek - Peristiwa
Editor: Zamz





















